Artikel

4 KALI TANAM CABAI TANPA OLAH LAHAN, PETIKAN KE-13 TITIK TUMBUH MASIH JALAN!

4 KALI TANAM CABAI TANPA OLAH LAHAN, PETIKAN KE-13 TITIK TUMBUH MASIH JALAN!


Karlina Indah / 01 Aug 2026

Banyak petani beranggapan setiap kali selesai panen, lahan harus dibongkar, diolah kembali, lalu diberi pupuk dasar sebelum ditanami lagi. Padahal, apakah selalu harus seperti itu? Di Temanggung, tepatnya di lahan milik Mas Ferdi, ada pemandangan yang membuat banyak orang tidak percaya. Lahan cabai ini sudah memasuki penanaman keempat, tetapi sampai sekarang baru sekali dilakukan olah lahan. Bahkan, tidak ada pemberian pupuk dasar pada setiap musim tanam berikutnya. Yang lebih menarik lagi, tanaman cabai masih menunjukkan pertumbuhan yang sangat baik. Titik tumbuhnya terus berlanjut, sehingga tanaman tetap menghasilkan buah meskipun saat ini sudah memasuki petikan ke-13. Kondisi ini membuktikan bahwa produktivitas tanaman tidak selalu ditentukan oleh seringnya mengolah tanah atau banyaknya pupuk dasar yang diberikan. Jika melihat kondisi lahannya, banyak orang tidak menyangka bahwa mulsa yang digunakan ternyata merupakan dua lapis. Mulsa lama tidak dibongkar, melainkan ditutup kembali menggunakan mulsa baru. Cara ini dipilih karena biaya mengolah lahan baru tidaklah sedikit. Lalu, bagaimana lahan ini tetap subur dan mampu menopang empat kali penanaman? Simak pengalaman dan penjelasannya pada artikel berikut.

Sekali olah lahan untuk 4 kali musim tanam

Banyak yang mengira rahasia lahan ini bisa bertahan sampai empat kali penanaman karena saat olah lahan pertama diberi pupuk kandang atau pupuk kimia dalam jumlah besar. Padahal kenyataannya tidak seperti itu. Menurut Mas Ferdi saat awal menyiapkan lahan ia hanya menggunakan dolomit sekitar 70 sak untuk lahan seluas 1.000 meter persegi. Caranya juga sederhana. Bedengan dibuat setengah jadi terlebih dahulu, kemudian dolomit ditebar secara merata, dicampurkan dengan tanah, setelah itu bedengan diselesaikan dan langsung ditutup menggunakan mulsa. Sebelum ditanami cabai merah keriting, lahan ini sebelumnya digunakan untuk menanam cabai rawit. Setelah panen selesai, tanaman lama langsung dicabut tanpa dilakukan olah tanah lagi. Penanaman berikutnya cukup memindahkan posisi lubang tanam agar tidak tepat berada di bekas akar tanaman sebelumnya. Menariknya, sebelum tanam juga tidak ada tambahan pupuk apa pun ke dalam lubang tanam. Bibit langsung ditanam dengan jarak tanam sekitar 50 cm, lalu pemenuhan nutrisi dilakukan bertahap melalui pengocoran rutin.

Jadwal pemupukan CMK, lengkap dan hemat

Menurut Mas Ferdi, kunci agar tanaman tetap subur bukan terletak pada banyaknya pupuk yang diberikan, tetapi bagaimana cara memberikannya. Sejak awal tanam, ia langsung melakukan pengocoran menggunakan campuran asam amino 50 ml, pupuk fosfat cair 100 ml, asam humat 5 sendok makan, dan Trichoderma 5 sendok makan untuk 20 liter air. Untuk pupuk fosfat, ia lebih memilih yang berbentuk cair karena dinilai lebih hemat dan hasilnya lebih cepat terlihat pada tanaman. Merk dagang yang digunakan yaitu MORDENFOL.  Memasuki umur sekitar 20 hari setelah tanam (HST), tanaman kembali dikocor menggunakan NPK 16-16-16 yang dicampur dengan asam humat. Kemudian pada umur 40 HST, racikannya diganti menjadi NPK Grower sekitar tiga gelas ditambah Mordenfoll 100 ml. Saat tanaman mulai masuk fase generatif atau pembentukan buah, nutrisi kembali disesuaikan dengan menggunakan KNO putih dan asam humat. Menariknya, ada satu bahan yang tidak pernah ditinggalkan dalam setiap pengocoran, yaitu asam humat. Menurut Ferdi, asam humat membuat tanah tetap gembur, lebih mampu menyimpan kelembapan, dan membuat pupuk yang diberikan bekerja lebih efisien. Walaupun dosis pupuk yang digunakan lebih sedikit, pertumbuhan tanamannya tetap bisa menyamai bahkan lebih baik dibandingkan lahan yang memakai pupuk banyak tanpa asam humat. Untuk menjaga kualitas buah, ia juga memberikan kalsium yang dicampur asam humat sebanyak dua kali, yaitu pada umur 30 dan 60 HST. Sementara itu, penyemprotan kalsium boron juga rutin dilakukan membantu mengurangi kerontokan bunga dan buah sehingga hasil panen menjadi lebih maksimal.

Cara Mengendalikan Keriting Daun dan Lalat Buah

Selain pengelolaan lahan dan pemupukan, Mas Ferdi juga sangat memperhatikan pengendalian hama sejak awal. Menurutnya, keriting daun lebih mudah dicegah daripada diobati setelah tanaman sudah terserang. Untuk antisipasi, ia menggunakan insektisida berbahan aktif imidakloprid dan Fluxametamide merk dagang Gracia sebanyak dua kali pada awal pertumbuhanSengaja langsung menggunakan insektisida tersebut agar hama bisa ditekan sejak awal. Setelah itu, penyemprotan dilanjutkan secara bergantian menggunakan abamektin sebagai bagian dari rotasi insektisida agar efektivitasnya tetap terjaga dan hama tidak cepat kebal. Agar tanaman tetap sehat, Mas Ferdi juga rutin memberikan nutrisi tambahan melalui penyemprotan. Pada fase vegetatif, ia menggunakan campuran asam amino dan Mordenfoll untuk membantu pertumbuhan tanaman. Setelah tanaman mulai masuk fase generatif, racikannya diganti menjadi VITARON SL dan KALINET dengan dosis sekitar 100 ml. Penyemprotan dilakukan secara rutin untuk membantu merangsang pembentukan bunga, mengurangi bunga rontok, serta meningkatkan bobot dan kualitas buah.

Sementara itu, untuk mengendalikan lalat buah, Mas Ferdi tidak hanya mengandalkan insektisida. Ia melakukan penyemprotan Curacron secara bergantian dengan Joker sebagai bagian dari rotasi pengendalian. Selain itu, ia juga memasang perangkap lalat buah menggunakan lem dan petrogenol di beberapa titik lahan. Menurutnya, kombinasi penyemprotan dan pemasangan perangkap jauh lebih efektif dibandingkan hanya mengandalkan insektisida saja. Dengan cara ini, serangan lalat buah bisa ditekan sehingga buah cabai tetap mulus dan layak jual hingga masa panen berakhir.

Dari pengalaman Mas Ferdi  ini, membuktikan bahwa tidak ada yang tidak mungkin, sekali olah lahan saja bisa untuk empat kali tanam. Kalau masih ragu, coba lihat kondisi tanamannya pada foto-foto berikut:

Bagi Sobat Mitra Bertani yang ingin melihat penjelasan lebih lengkap langsung dari Mas Ferdi, mulai dari cara olah lahan, pola pemupukan, hingga strategi pengendalian hama yang diterapkan di lapangan, silakan tonton video lengkapnya di sini.


Rekomendasi Produk :
MORDENFOL
VITARON
KALINET